Masalah Terpecahkan! Bagaimana Para Edupreneur Menjadikan Krisis Sekolah Sebagai Peluang Bisnis
Ilustrasi biaya sekolah anak. Foto: KumparanMOM-Shutter Stock
Artikel ulasan
Menurut
perdebatan publik dan politik saat ini, sekolah-sekolah di Swedia sedang
mengalami kondisi masalah yang parah. Selama beberapa dekade, media telah
melaporkan penurunan hasil dalam skala besar internasional. Penilaian ini sekaligus menyoroti bagaimana sekolah, pemerintah kota,
dan siswa menjadi semakin terpisah berdasarkan etnis dan kelas sosial.
Media melaporkan tentang lingkungan pembelajaran
yang buruk, dan tidak efisien, serta kurangnya guru yang berkualitas. Beberapa menggambarkan bahwa guru tidak kompeten dan
sekolah tidak mempersiapkan siswanya secara memadai untuk peran masa depan
mereka di masyarakat atau pasar kerja. Dalam debat publik, juga dikemukakan bahwa
penelitian pendidikan tidak demikian menyediakan alat yang tepat untuk meningkatkan
pengajaran dan pembelajaran.
Dengan demikian, beberapa peneliti dari Swedia, yaitu Ideland, M., Jobér, A., dan Axelsson, T. membuat sebuah artikel dengan judul "Masalah Terpecahkan! Bagaimana Para Edupreneur Menjadikan Krisis Sekolah
Sebagai Peluang Bisnis" (Vol. 20, No. 1, Halaman
83–101. Tahun. 2020) Artikel ini bertujuan untuk mengilustrasikan bagaimana narasi krisis pembelajaran dimanfaatkan ke dalam ide bisnis oleh edupreneurs.
Meninjau dari beberapa sumber seperti, Arete Meritering (2017, 3 Januari) www.aretemeritering.se (diakses 3 Januari 2017). GAFE (2017, 3 Januari) www.google.com/edu/products/productivity-tools/ (diakses 3 Januari 2017).Lin Education (2017, 3 Januari) http://lineducation.se/ (diakses 3 Januari 2017). Lin Education (2017, 13 Juni) http://lineducation.se/prylar (diakses 13 Juni 2017). Lin Education (2018,
20 Februari) http://lineducation.se/om-oss (diakses 20 Februari 2018) dan dengan menggunakan metode riset digital, dan
pendekatan analisis WPR (What’s the Problem Represented to
Be) kerangka kerja analisis dari kerangka kerja Carol Bacchi (2019) yang
terkait dengan pendekatan kualitatif.
Penelitian ini menghasilkan solusi untuk mengatasi kurangnya pengajaran yaitu dengan menerapkan
langkah-langkah karir dalam profesi guru, yang paling signifikan adalah apa
yang disebut sebagai reformasi guru utama pada tahun 2013 (SFS 2013:70). Penciptaan
posisi guru utama diberlakukan untuk menciptakan jalur karier bagi guru dan termasuk
kenaikan gaji yang substansial. Peraturan tersebut (SFS 2013:70) menyatakan
bahwa standar minimum untuk guru kepala adalah bahwa dia adalah guru
bersertifikat, dapat menunjukkan dokumentasi setidaknya empat tahun kerja yang
dinilai baik di sekolah, telah menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam
meningkatkan kinerja siswa, dan telah mengembangkan pengajaran.
Pada setiap artikel, pasti memiliki sisi positif dan negatif. Adapun penelitian ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, seperti :
A. Kelebihan
- Ketepatan waktu dan tema. “Krisis Sekolah” yang terjadi di Swedia diangkat sebagai masalah dalam penelitian ini yang bermanfaat bagi para akademisi yang tertarik pada revolusi pendidikan kala itu.
- Kritik terhadap para edupreneur yang memanfaatkan narasi “Krisis”.
- Menyajikan wawasan yang kompleks antara sektor pemerintah dan sektor swasta dalam menangani masalah pendidikan.
- Menggunakan pendekatan kualitatif yang mengungkap asumsi edupreneur terhadap pendidikan
B. Kekurangan
- Adanya potensi bias terhadap kritik yang merusak objektivitas dikarenakan penulis terlibat dalam kebijakan pendidikan.
- Ruang Lingkup yang terbatas pada Lin Education.
- Kritik berlebihan terhadap neoliberalis yang mengurangi sisi positif dari edupreneur.
- Artikel ini tidak memuat dampak bagaimana komodifikasi pendidikan dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
Kelebihan dan kekurangan artikel yang dijelaskan ini guna untuk mengevaluasi hasil dari penelitian dan memberikan beberapa saran atau rekomendasi untuk artikel ini, yaitu :
- Kritisi
Narasi Krisis: Memahami bagaimana narasi “krisis”
yang dibangun oleh edupreneur dapat membuka ruang untuk solusi yang lebih
berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan pendidikan daripada sekadar
respons pasar.
- Pendekatan Berbasis Penelitian: Kebijakan pendidikan seharusnya didasarkan pada penelitian
yang kuat dan data yang valid dimana ada kerjasama antara akademisi, praktisi,
dan pembuat kebijakan untuk memastikan bahwa penelitian yang dilakukan relevan
dan efektif.
- Dukungan untuk Guru: Memfokuskan program pengembangan profesional yang
menargetkan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh guru dalam konteks
digitalisasi dan perubahan kurikulum. Penyediaan sumber daya yang memadai untuk
guru akan mempromosikan kualitas pengajaran dan pengalaman belajar siswa.
- Dialog dengan Edupreneurs: Melakukan dialog yang konstruktif antara lembaga
pendidikan dan edupreneurs untuk memastikan bahwa solusi yang ditawarkan
benar-benar memenuhi kebutuhan pendidikan dan tidak hanya mementingkan profit.
Dengan menerapkan rekomendasi tersebut,
diharapkan dapat membantu dalam membangun sistem pendidikan yang lebih
responsif, berkeadilan, dan berkelanjutan di Swedia, serta mengurangi
ketergantungan pada pendekatan komersial yang mungkin tidak sepenuhnya memenuhi
kebutuhan pendidikan.
Sejatinya, pendidikan merupakan garda terdepan dalam upaya mencerdaskan bangsa, alih-alih mencari keuntungan didalam pendidikan, alangkah lebih baik untuk mencari solusi bersama dengan berbagai sektor untuk menemukan jalan keluar yang terbaik bagi kemajuan sebuah bangsa. (Oleh. Athaya Qurrotul Aini)

Komentar
Posting Komentar